Yang kuat ya diriku
Dear, Aku bukan kamu
Kamu seolah baik-baik saja. Tapi Iangkahmu berat, jiwamu kosong. Hanya senyummu tersungging seolah kamu yang paling kuat. Ah, bukankah itu sungguh menyesakkan?
Sementara jauh di dalam jiwamu, kamu meronta lalu merintih. Rintihan yang nyaris tak pernah kamu dengar. Dalam rintihan itu, kamu menyalahkan dirimu sendiri yang tak sempurna, yang tak bisa menjadi manusia yang begini-begitu seperti kata orang, yang tak mampu mengerjakan sesuatu untuk membahagiakan semua orang.
Kamu juga menyalahkan masa lalumu yang menurutmu buruk. Kamu menyudutkan dirimu sendiri. Tapi rintihan itu tak pernah kamu dengar. Atau sesekali memang kamu dengarkan, lalu kemudian membuatmu marah dan kesal.
Kemudian kamu memilih sibuk berpura-pura bahagia, atau sejenak menangisi apa-apa yang membuatmu sakit. Kamu tutup telingamu dari suara nuranimu sendiri. Agar kamu menjadi apa yang menjadi standar orang untuk mendapat sebutan "berhasil“. Tapi sesungguhnya kamu belum berhasil. Hanya kamu sendirilah yang tahu dalam hatimu. Kamu belum berhasil melihat lukamu sendiri, mengakuinya, juga menyembuhkannya. Maka, bagaimana bisa kamu memaafkan dirimu sendiri? Sampai kapan?
Mengapa kamu tak menjadi dirimu sendiri saja? Oh ya, aku lupa. Sungguh. Aku lupa kalau kamu masih takut menatap luka itu. Kamu bahkan tak menginginkan ia sembuh. Kamu abaikan begitu saja seolah tak ada. Padahal di balik bebat perban, lukamu semakin bernanah. Setiap hari ia mengikuti Iangkahmu, membentuk prasangkamu.
Tanpa kamu tahu, luka itu membuatmu tumbuh menjadi manusia yang penakut akan masa depan. Menjadi manusia yang mudah tersakiti perasaannya. Menjadi manusia bertopeng, namun tak sadar tengah mengenakan topeng.
Jika terus begitu, kapan kamu akan memaafkan dirimu sendiri? Tidakkah kamu melihat jiwamu Ietih melihat maumu yang menggunung, tapi langkahmu urung?
Sadar yooo diriku lampiaskan ja ka siapa kah😂
Komentar
Posting Komentar